Cari Blog Ini fbfoksia.blogspot.com
Rabu, 13 April 2016
SERUAN BUMI
*Wahai anak Adam, engkau berlari diatas punggungku dan tempat kembalimu di dalam perutku
*Engkau bermaksiat di atas punggungku dan engkau disiksa di dalam perutku
*Engkau tertawa di atas punggungku dan engkau menangis di dalam perutku
*Engkau bergembira di atas punggungku dan engkau bersedih di dalam perutku
*Engkau mengumpulkan harta di atas punggungku dan engkau menyesal di dalam perutku
*Engkau memakan barang haram di atas punggungku dan engkau dimakan belatung di dalam perutku
*Engkau sombong di datas perutku dan engkau terhina di dalam perutku
*Engkau berjalan di atas punggungku dan engkau terjatuh di dalam perutku
*Engkau berjalan di bawah sinar matahari, bulan, lampu, dan engkau berada dalam kegelapan di dalam perutku
*Engkau berjalan bersama orang banyak di atas punggungku dan engkau tinggal sendirian di dalam perutku
(disadur dari kitab syarah Nashoo-ihul 'Ibaad karya Syaikh Nawawi Al Bantani, 1815-1897 M).
biografi Syaikh Nawawi Al Bantani bisa dibaca pada laman: https://sabrial.wordpress.com/syaikh-nawawi-al-bantani-1/
*_-*_-*_-*...(silahkan download nasyid ini, gratiis)...*_-*_-*_-*
1
SENYUM itu INDAH
Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita untuk selalu menampakkan wajah ceria dan menyenangkan pada setiap orang yang dijumpainya meskipun beliau sendiri sedang menghadapi kesedihan dan masalah yang rumit. Senyumnya senantiasa tampak dalam setiap majelis dan pertemuan yang dihadirinya. Setiap sahabat senang bila diajak berbicara dengan beliau dan pasti mereka terkesan dengan senyuman beliau.
* Diriwayatkan dari Imam Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim rah. bahwa Rasulullah SAW tidak pernah tertawa kecuali tersenyum.
* Diriwayatkan dari Imam Ahmad rah. bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menceritakan sesuatu kecuali dengan tersenyum.
* Diriwayatkan oleh Imam Thabrani rah. dari shahabat Sayyidina Abu Umamah ra. bahwa Rasulullah SAW termasuk paling banyak tersenyum di antara manusia dan juga paling baik jiwanya di antara manusia yang lain.
* Sayyidatina Fatimatuz Zahra ra. Berkata: "Rasulullah SAW sering menggembirakan aku sampai aku tertawa".
Rasulullah SAW selalu menampakkan wajah berseri-seri dengan senyumnya yang khas setiap kali beliau bertemu dengan seseorang, beliau juga tersenyum dengan penuh gembira menyambut kedatangan orang yang baru datang dalam majelis pertemuannya. Sebagaimana yang beliau lakukan ketika menyambut kedatangan Sayyidina Ammar bin Yasir sambil tersenyum beliau berkata, "Selamat datang kepada yang baik dan tetap akan baik." (HR. at-Tirmidzi).
Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Jabir bin Samurah ra., ia berkata, "Para sahabat Rasulullah SAW kadang-kadang mengingat dan membicarakan berbagai peristiwa yang pernah terjadi pada zaman Jahiliyah, mereka geli tertawa, Beliau SAW pun turut mendengarkan sambil tersenyum.”
Rasulullah SAW sering juga dikerjai oleh sahabatnya dan menjadi sasaran langsung lelucon mereka. Namun Beliau SAW tidak pernah marah apalagi jengkel, bahkan Beliau SAW juga ikut tersenyum melihat tingkah laku mereka.
Berwajah manis dan penuh senyum ketika berhubungan dengan orang lain adalah bukti keramahan Beliau SAW. Lebih-lebih lagi ketika berurusan dengan orang miskin dan lemah. Karena itu, Beliau SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya keramah-ramahan itu memperindah segala sesuatu dan bila dicabut dari padanya akan menjadikannya buruk".
Sayyidina Husain pernah bertanya kepada ayahnya, Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra. tentang cara Rasulullah SAW bergaul dengan para sahabatnya maka Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra. berkata bahwa: “Rasulullah SAW selalu tersenyum dan lemah lembut, tidak keras juga tidak kaku, suaranya tidak lantang, bicaranya selalu bersih dan serius, tidak pernah mencela apa pun, tidak suka memuji dengan pujian yang berlebihan, tidak selalu begurau, apa yang tidak disenangi tidak diacuhkan, dan setiap orang yang datang memerlukan sesuatu kepada beliau tidak akan diputus harapannya”.
Keramahan dan senyum Rasulullah SAW dalam setiap pergaulannya bermasyarakat membuat beliau disenangi dan dihormati oleh banyak orang sampai orang-orang yang memusuhi beliau pun menjadi segan dan hormat kepada beliau. Karena setiap kali beliau bertemu dengan orang-orang yang memusuhinya beliau tidak pernah menunjukkan wajah garang, melainkan senyum dan keramahan yang selalu beliau tampakkan.
Untuk menjadi pribadi yang disenangi banyak orang maka kita harus menampakkan wajah yang penuh dengan senyuman sekalipun kita dalam keadaan bersedih. Dengan menampakkan senyum maka akan membuat orang disekitar kita merasa bahagia dan tentram. Perlu diketahui bahwasanya sedekah yang paling murah dan mulia adalah SENYUMAN.
Demikianlah bahwa senyuman sesungguhnya merupakan rahasia diri yang memiliki banyak manfaat, baik bagi diri yang tersenyum maupun bagi orang yang diajak tersenyum. Bahkan terjalinnya suatu kebersamaan antara sesama yang membuat suasana penuh kedamaian dan kehangatan adalah karena sebuah senyuman. Sebab itu, mari kita senantiasa berusaha membiasakan diri kita agar tersenyum dengan tulus. Karena selain dapat membuat diri kita merasa bahagia, orang lain pun menjadi tertarik dengan kemuliaan sikap kita.
hadapilah perjalanan hidup kita dengan
senyuman yang tulus
Senin, 04 April 2016
Pertolongan Allah
bismillahirrahmanirrahim
alhamdulillah syukur kita kepada allah swt dan allahumma sholi 'ala muhammad wa alaalimuhammad buat baginda rasulullah saw.
PERTOLONGAN ALLAH DATANG KEPADA ORANG YANG MENOLONG AGAMA ALLAH
Bukan berarti Allah tidak berdaya berharap pertolongan dari manusia, tetapi ini bentuk perintah sekaligus ujian bagi kita apakah kita mau mengikuti perintah Allah. Dan Allah berjanji (yang tidak mungkin ingkar) bahwa akan menolong kita jika kita menolong agama Allah.
Firman allah swt ''
Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. Muhammad:7)
''.
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. ''Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS.Al Hajj : 40)
''.
Cara menolong agama Allah tiada lain dengan menegakan kalimat Allah di muka bumi, dengan cara berdakwah dan berjihad serta peduli dengan umat-Nya yang sedang dilanda kesulitan seperti saudara kita di Palestina. Ini jelas membantah pendapat yang mengatakan kita tidak usah repot memikirkan negara orang lain, sebab negara kita pun banyak masalah.
Justru dengan menolong negara orang lain, adalah bagian dari menoong agama Allah yang akan mendatangkan pertolongan Allah bagi negeri kita minimal berdo'a lah untuk saudara-saudara seiman dengan kita disana, semoga allah selalu memberikan kemudahan untuk kita amin.
Sumber: fans page fb RZ
Jumat, 01 April 2016
Sholat Sunnah
Yang dimaksud dengan sholat sunnah adalah semua sholat selain sholat fardhu lima waktu, shalat jum'at dan shalat jenazah. Yang dimaksud dengan amalan sunnah ialah suatu amalan yang apabila dilakukan, pelakunya akan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan yang meninggalkannya tidak berdosa.
Shalat sunnah banyak macamnya, antara lain :
1.Shalat Rawatib, yaitu shakat sunnah yang mengiringi shalat fardhu baik dikerjakan sebelum atau sesudah shalat fardhu. Shalat rawatib yang dikerjakan sebelumm shalat frdhu disebuat shalat qabliyah, dan uang dikerjakan sesudah shalat fardhu disebut shalat ba'diyah.
Shalat rawatib tersebut adalah :
- Dua/empat rakaat sebelum zhuhur
- Dua rakaat setelah zhuhur
- Dua rakaat sesudah maghrib
- Dua rakaat sesudah isya
- Dua rakaat sebelum shalat shubuh
Dari Abdullah bin Umar ia berkata : Saya ingat dari Rasulullah SAW mengerjakan shalat dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat sesudah zhuhur, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya dan dua rakaat sebelum shubuh. (HR. Al-Bukhori).
Keutamaan shalat sunnah rawatib dinyatakan dalam hadits-hadits berikut :
Dari Aisyah ra, dari Nabi SAW beliau telah bersabda : "Dua rakaat sebelum fajar itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR. Muslim).
"Siapa yang shalat sehari semalam 12 rakaat maka dibangunlah baginya sebuah rumah di syurga, yaitu 4 rakaat sebelum zhuhur, 2 rakaat sesudah zhuhur, 2 rakaat seudah maghrib, 2 rakaat sesudah isya, dan 2 rakaat sebelum shubuh." (HR. At-Turmudzi adn ia menyatakan bahwa hadits ini hasan dan shahih).
2.Shalat Lail, yaitu shalat yang dikerjakan pada waktu malam hari. Di antara shalat lail adalah :
Shalat witir, yaitu shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari dengan jumlah rakaat ganjil, paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas rakaat. Cara melaksanakannya boleh memberi salam tiap-tiap dua rakaat dan yang terakhir boleh satu atau tiga rakaat. Jika dilaksanakan dengan tiga rakaat maka tidak usah membaca tasyahud wala agar tidal serupa dengan shalat maghrib. Waktu pelaksanannya sesudah shalat isya hingga terbit fajar dan seyogyanya shalat witir ini sebagai penutup dari seluruh sholat pada malam hari.
Dari Abu Ayyub ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Sholat witir itu hak bagi orang muslim, barang siapa yang senang melakukan sholat witir 5 rakaat maka lakukanlah. barang siapa yang senang melakukan sholat witir 3 rakaat maka lakukanlah. barang siapa yang senang melakukan sholat witir 1 rakaat saja maka lakukanlah." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Lakukanlah sholat witir lima, tujuh, sembilan, atau sebelas rakaat." (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim).
Dari Jabir ra : Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang khawatir tidak bisa melakukan sholat witir di akhir malam maka hendaklah berwitir pada permulaan malam. barang siapa yang berkeinginan untuk sholat di akhirnya maka hendaklah berwitir pada akhirnya, sebab sesungguhnya sholat pada akhir malam itu disaksikan oleh para malaikat. dan itu yang lebih afdhol." (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Dari Ali ra dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Wahai Ahlul Qur'an, shalat witirlah, sesungguhnya Allah ganjil, senang kepada ganjil." (HR. Imam lima. Hadits Shohih menurut Huzaimah).
Dari Tolq bin Ali dia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Tidak diperkenankan dua witir dalam satu malam." (HR. Ahmad dan Tiga imam. Hadits Shohih menurut Ibnu Hibban).
Shalat Tahajjud, yaitu shalat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari. Waktu yang paling baik adalah dilaksanakan sesudah bangun tidur setelah shalat isya di sepertiga malam terakhir. Jumlah rakaat sedikitnya dua rakaat dan paling banyak adalah 8 rakaat. Dalam banyak riyawat disebutkan bahwa beliau SAW shalat 8 rakaat setiap malam baik pada Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
Firman Allah SWT : "Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Israa : 79).
Dari Abu Hurairoh ra dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah sholat malam." (HR. Muslim)
Dari Jabir ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Dua rakaat yang dilakukan di pertengahan malam bisa melebur beberapa kesalahan." (HR. Dailami)
Bilal ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Hendaklah kamu senantiasa menjalankan sholat malam, sebab sesungguhnya sholat malam adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang sholeh sebelummmu, pendekatan diuri kepada Allah, mencegah dosa, menghapus beberapa kejahatan dan bisa menolak penyakit yang menyerang tubuh." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Semoga Allah memberi rahmat kepada orang laki-laki yang bangun malam, lalu menjalankan sholat dan membangunkan istrinya lalu turut sholat. bila sang istri tidak mau, maka sang suami memercikkan air di muka sang istri.
Semoga Allah meberikan rahmat kepada seorang istri yang bangun di waktu malam, lantas mengerjakan sholat dan membangunkan suaminya lalu sang suami melakukan sholat. bila sang suami tidak mau maka sang istri memercikkan air ke muka sang suami (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Bila seorang laki-laki bangun di waktu malam, lalu membangunkan istrinya, lantas mereka sholat dua rakaat maka mereka termasuk orang-orang yang banyak berdzikir (HR. Abu Dawud dan Nasa'i).
Shalat Tarawih, yaitu sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hadri pada bulan ramadhan. Hukummnya sunnah muakkad baik bagi laki-laki maupun perempuan. Waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat isya sampai waktu shubuh. Mengenai jumlah bilangan rakaat shalat tarawih terdapat beberapa perbedaan di antara para ulama. Sebagian berpendapat 8 rakaat, sebagian lain ada yang berpendapat 20 rakaat dan 36 rakaat.
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW menganjurkan agar beribadah pada bulan Ramadhan, beliau tidak meyuruh dengan keras hanya beliau bersabda : "Barang siapa yang melakukan ibadah pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan kepada Allah, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu." (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Dari Aisyah ra : Sesungguhnya Nabi SAW shalat di masjid lalu orang-orang ikut shalat bersama mengikuti beliau, lalu pada malam kedua beliau shalat lagi dan orang-orang sudah banyak (yang ikut), kemudian orang-orang berkumpul pada malam ketiga atau keempat, tapi Rasulullah SAW tidak keluar menemui mereka. Ketika sudah pagi beliau bersabda:
"Saya sudah melihat apa yang kalian lakukan, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian kecuali karena aku takut kalau (shalat tarawih) itu diwajibkan atas kamu semua". (HR. Muttafaq ‘Alaih).
3.Shalat 'Idain (Hari Raya), yaitu shalat sunnah pada dua hari raya, idul fitri (1 Syawal) dan idul adha (10 Dzulhijjah). Hukumnya adalah sunnah muakkad dan Rasulullah selalu melaksanakannya.
Dari Ibnu Abbas ra. sesungguhnya Nabi SAW shalat pada hari raya dua rakaat, beliau tidak shalat sebelum dan sesudahnya. (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Dari Ummu 'Athiyyah ia berkata : Rasulullah SAW telah menyuruh kami pada hari raya Idul fitri dan Idul Adha agar kami membawa para gadis, perempuan yang sedang haidh, dan perempuan yang bertutup (memakai cadar) ke tempat shalat hari raya. Adapun perempuan yang sedang haidh mereka tidak melaksanakan sholat. (HR Al-Bukhori dan Muslim).
Shalat 'Idain boleh dilaksanakan di masjid atau di lapangan agar wanita yang sedang haidh dapat mendengarkan khutbah di lapangan tersebut.
Dalam sebuah hadits dinyatakan : Bahwa pada suatu hari raya hujan turun, maka Nabi SAW melaksanamakn shalat dengan sahabt-sahabatnya di masjid. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan AL-Hakim).
Sunnah-sunnah Shalat 'Idain
Dilaksanakan dengan berjamaah
Takbir tujuh kali pada rakaat pertama (setelah doa iftitah) dan lima kali pada rakaat kedua.
Mengangkat tangan setiap kali takbir.
Membaca tasbih di antara takbir, dengan lafazh "subhanallaah wal hamdulillaah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar" (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar).
Membaca surat Al-A'laa pada rakaat pertama dan Al-Ghosyiyah pada rakaat kedua, atau surat Qaaf pada rakaat pertama dan surat Al-Qomar pada rakaet kedua.
Menyaringkan bacaan takbir, Al-Fatihah dan surat.
Khutbah dua kali setelah shalat.
Khatib memulai khutbah pertama dengan sembilan kali takbir dan khutbah kedua dengan tujuh kali takbir.
Mandi dan berhias diri, memakai wangi-wangian serta mengenakan pakaian yang terbagus.
Makan sebelum sholat Idul fitri, dan tidak makan sebelum sholat Idul Adha.
Membaca takbir di luar shalat, mulai terbenam matahari hingga khatib naik ke mimbar (untuk shalat Idul Fitri), dan mulai dari shubuh hari Arafah sampai waktu ashar hari terakhir tasyrik (untuk shlata Idul Adha).
4.Shalat Khusuf dan Kusuf
Shalat Khusuf adalah shalat sunnah ketika terjadi gerhana bulan, sedang shalat kusuf adalah shalat sunnah ketika terjadi gerhana matahari.
"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah." (QS. Al-Fushshilat : 37).
"Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya menjadi tanda adanya Allah dan kekuasaanNya. Keduanya menjadi gerhana bukan karena kematian seseorang bukan pula karena hidupnya seseorang. Maka apabila kamu melihat keduanya gerhana, maka berdoa'alah kepada Allah dan shalatlah hingga habis gerhana itu." (HR Al-Bukhori dan Muslim).
Pelaksanakannya boleh berjama'ah boleh pula sendiri, dengan cara-cara sebagai berikut :
Berdiri dengan niat shalat gerhana ketika takbiratul ihram, lalu membaca Al-Fatihah dan surat/ayat kemudian ruku' lalu berdiri kembali dan membaca Al-Fatihah dan surat/ayat yang kedua kali, lalu ruku', i'tidal dan sujud dua kali. Yang demikian itu terhitung satu rakaat. Kemudian diteruskan rakaat kedua seperti rakaat pertama, dan diakhri dengan salam. Jadi shalat gerhana ini dilaksanakan dua rakaat, empat kali membaca Al-Fatihah dan surat, empat kali ruku', dan empat kali sujud.
Cara kedua sama seperti cara pertama hanya saja berdiri agak lama dengan membaca surat yang panjang dan ruku'nya agak lama. Al-Fatihah dan surat dibaca dengan suara keras baik gerhana matahari atau bulan. Hal ini karena Rasulullah mengeraskan suara pada waktu shalat gerhana. Sebagian ulama berpendapat bahwa untuk gerhana bulan dengan suara keras, sedang gerhana matahari tidak dikeraskan.
Cara yang ketiga sama seperti melaksanakan shalat sunnah yang lain. Setelah shalat dilanjutkan dengan khutbah yang isinya antara lain menyuruh manusia bertaubat dari perbuatan dosa dan menyruh beramal kebaikan.
5.Shalat Tahiyyatul Masjid, yaitu shalat untuk menghormari masjid. Bagi orang yang masuk masjid disunnahkan untuk melakukan shalat tahiyyatul masjid sebanyak dua rakaat sebelum dia duduk di masjid itu (untuk i'tikaf).
Dari Abu Qatadah, Rasulullah SAW besabda : "Apabila salah seorang diantara kalian masuk ke masjid, maka hendaklah ia tidak duduk sebelum melakukan shalat dua rakaat." (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
6.Shalat Dhuha, ialah sholat sunnah yang dilakukan pada waktu dhuha (mulai matahari setinggi tombak pada pagi hari sampai mendekati waktu zhuhur). Shalat dhuha sedikit-dikitnya adalah dua rakaat dan sebanyak-banyaknya adalah dua belas rakaat.
Dari Abu Hurairah ia berkata : Telah berpesan kepadaku (Rasulullah SAW) tiga macam pesan, yaitu berpuasa tiga hari tiap-tiap bulan, shalat dhuha dua rakaat dan shalat witir sebelum tidur." (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
Dari Anas, Nabis SAW bersabda : "Barang siapa yang sholat dhuha 12 rakaat Allah akan membuatkan baginya istana di syurga." (HR. At-Turmudzi dan Ibnu Majah).
7.Shalat Istisqo, yaitu shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepad Allah SWT agar diturunkan hujan. Shalat ini dilaksanakan pada saat musim kemarau panjang.
Caranya dapat dilakukan dengan :
Dengan berdoa baik sendiri-sendiri atau beramai-ramai.
Berdoa dalam khutbah jum'at.Yang paling sempurna adalah dengan melakukan shalat istiqo. Dalam sebuah hadits :
Rasulullah SAW telah keluar pergi untuk meminta hujan lalu beliau berpaling membelakangi orang banyak. Beliau mengahadap kiblat dan beliau balikkan selendang beliau. (HR. Muslim).
Sebelum melaksanakan shalat, semua orang baik laki atau perempuan, tua muda, bahkan orang lemah pun diusahakan untuk ikut ke lapangan. Sebelum itu hendaklah salah seorang diantara mereka (tokoh) memberikan nasehat agar mereka bertaubat dari segala dosa, dan berhenti dari kezaliman dan segera beramal kebajikan.
Sebelum pergi ke lapangan hendaklah mereka berpuasa empat hari berturut-turut. Pada hari ke empat mereka menuju lapangan dengan pakaian yang sederhana. Mereka berjalan tenang serta merendahkan diri dengan penuh harap pertolongan Allah SWT. Kemudian kahtib berdiri dan berkhutbah yang dimulai dengan istighfar, hamdalah, serta syahadat seperti dalam shalat jum'at. Di dalam khutbah hendaknya khatib mengajak jama'ah untuk bertaubat dan menerangkan bahwa Allah Maha Pemurah kepada seluruh hambaNya jika hambaNya bersungguh-sungguh dalam berdoa dan memohon kepadaNya. Kemudian berdoa.
Setelah berdoa, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat tanpa adzan dan iqomah. Pada rakaat pertama membaca surat Al-A'la setelah Al-Fatihah dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ghosyiyah.
8.Shalat Istikharah, ialah shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon petunjuk kepada Allah atau dipilihkan antara beberapa pilihan yang paling baik untuk dilaksanakan.
Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW mengajarkan kami minta petunjuk dalam perkara-perkara yang penting. Beliau bersabda : "Jika salah seorang di antara kamu menghendaki suatu pekerjaan maka hendaklah ia shalat dua rakaat lalu berdoa." (HR. Al-Bukhori).
Sumber: mahluqbumi.blogspot.com