Cari Blog Ini fbfoksia.blogspot.com

Kamis, 30 Juni 2016

Jagalah dari 8 Dosa ini Ketika Buka Puasa Bersama

resep-asik.jpeg

Ada satu aktifitas di bulan Ramadhan yang tidak didapati di bulan lainnya; buka bersama. Buka puasa bersama teman, secara umum, tentu hal yang positif karena bisa meningkatkan ukhuwah dan menyambung silaturahim.

Namun, sering kali ada banyak kesalahan dalam buka bersama, khususnya delapan “dosa” berikut ini yang perlu untuk dihindari.

1. Kehalalan menu

Kadang orang-orang buka bersama di rumah makan atau restoran tanpa memperhatikan apakah menu-menu di tempat itu benar-benar halal atau tidak. Padahal puasa telah menjaga kita dari makanan halal, jangan sampai kita malah berbuka dengan makanan yang tidak jelas halal haramnya.

2. Shalat Maghrib di ujung waktu

Seringkali karena tempat buka bersama tidak representatif, tidak ada masjid atau mushola yang representatif, akhirnya shalat Maghribnya tidak bisa berjamaah di awal waktu.

Terkadang juga ada mushala di rumah makan atau restoran tersebut tetapi karena kecil ia hanya bisa menampung beberapa jamaah sehingga antrian mengular. Akibatnya, shalat Maghrib tertunda, atau bahkan akhirnya dilakukan di ujung waktu di masjid di luar rumah makan atau restoran tersebut.

3. Ketinggalan shalat Isya’ berjamaah

Karena buka bersama baru selesai menjelang shalat Isya’ dan perjalanan macet atau membutuhkan waktu agak lama, akhirnya ketinggalan shalat isya’ berjamaah. Karenanya ketika memilih tempat buka bersama, hendaklah diperhatikan lokasi dan jaraknya dari masjid, atau jika diperkirakan akan ketinggalan shalat Isya’ jika melakukannya di masjid luar, cari tempat berbuka bersama yang dekat/ada masjid-nya dan bersiap shalat Isya’ di situ.

4. Kehilangan tarawih berjamaah

Hal ini erat kaitannya dengan “dosa” ketiga. Jika shalat isya’ berjamaah ketinggalan, umumnya juga akan ketinggalan tarawih berjamaah. Sungguh satu hal yang sangat disayangkan.

5. Pemborosan dan mubazir

Ini merupakan “dosa” umum buka bersama di tempat “mewah.” Manu makanannya sangat banyak dan harganya pun mahal-mahal. Sudah begitu, menu yang sudah dibeli tidak bisa dihabiskan dan akhirnya terbuang sia-sia.

6. Ghibah

Ada kalanya buka bersama diwarnai dengan ghibah. Sambil menunggu buka bersama, antar peserta saling ngorol ternyata ujung-ujungnya ghibah. Untuk mengatasi hal ini, agenda buka bersama perlu disusun dengan rapi, misalnya ada tialwah dan ceramah agama sebelum berbuka dan ngobrolnya diatur agar tidak menjadi ghibah.

7. Zina mata

Ada kalanya buka bersama diadakan di tempat yang justru tidak baik untuk menjaga mata di bulan Ramadhan. Misalnya di restoran atau hotel yang di situ ada kolam renang dan bule-bule dengan tanpa merasa bersalah berenang menjelang Maghrib. Di Surabaya ada tempat berbuka semacam itu dan kota-kota besar lainnya mungkin saja ada.

Namun, zina mata bukan hanya terjadi karena faktor tempat buka bersama. Bisa juga terjadi karena faktor dengan siapa kita buka bersama. Misalnya buka bersama dengan teman-teman alumni atau komunitas yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang tidak menutup aurat dengan rapi.

8. Ikhtilath

Nah, ini terkat erat dengan poin di atas. Kadang buka bersama campur baur antara laki-laki dan perempuan sehingga terjadi ikhtilath.

Yuk kita jaga puasa kita agar jangan sampai menjadi sia-sia seperti sabda Rasulullah:



“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar.”(HR. Ibnu Majah; hasan shahih)

Wallahu a’lam bish shawab.

Source by : [Muchlisin BK/ Tarbiyah.net]
image by : resepasik.com
edited by : WTRM F14

#mari kita ingat dan jaga, agar puasa kita tidak sia-sia :):):)

Puasa Syawwal ??? (luar biasa keutamaanya lho)

Bismillah

ketupat-lebaran.jpeg

Puasa syawwal adalah puasa yang dikerjakan sesudah hari raya Idul Fitri sebanyak 6 hari puasa. Puasa pada hari itu hukumnya sunnah berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari r.a., ia berkata, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa.”[1].

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah saw. bersabda:…“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …”[2].

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadits Qudsi:“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.”[3].

Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi saw. anjurkan setelah melakukan puasa wajib ( puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawal.

1. Waktu Puasa Syawal

*.Kebolehan dan keutamaannya. Tata cara pelaksanaannya yang paling afdhal adalah setelah hari raya, lalu mengerjakan puasa (mulai tanggal 2 syawwal) selama 6 hari secara terus menerus. Meski begitu, puasa syawal boleh dikerjakan tidak langsung setelah hari raya selama masih dikerjakan dibulan syawal, begitu juga diperbolehkan mengerjakannya terpisah-pisah, tidak terus menerus.Wallahu a’lam.

*.Keutamaan berturut-turut.Imam NawawidalamSyarh Muslim,8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhal (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.”

*.puasa sunnah ini tidak ada setelah habisnya bulan syawwal (artinya batas waktu pengerjaannya hanya pada bulan syawwal saja)
*.Bagi yang berudzur.Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qadha’(mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqa’dah. Hal ini tidaklah mengapa.[4] (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466).


2. Pahala Puasa Syawal

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].”[5],

Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh.[6].


3. Hikmah / Manfaat Puasa Syawal

1.Penggenap pahala puasa setahun. Merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh sebagiamana disebutkan dalam haditsTsaubandi atas.

2.Penyempurna puasa wajib. Bagaikan shalat sunnahrawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3.Indikator diterimanya pahala Ramadhan. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: "Pahala'amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

4.Melanggengkan maghfirah (ampunan). Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya'ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukuratas nikmatini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Allah Ta'ala berfirman:"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali"(An-Nahl: 92).

5.Bersambungnya amalan. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillahlantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.Allah Ta'ala berfirman :"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)"(Al-Hijr: 99).Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkanmahabbah(kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.Semoga bermanfaat.
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”


Sumber :

Fikih Sunnah jilid 3, Sayyid Sabiq, Penerbit: P.T.Al-Ma'arif - Bandung.

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/puasa- syawal-puasa-seperti-setahun-penuh.html

https://www.facebook.com/notes/rr-irvan-revaldi /keutamaan-puasa-6-hari-di-bulan-syawal /705258732834259

*

[1]. (Shahih Muslim, no.1164)

[2]. (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)

[3]. (HR. Bukhari)

[4]. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466).

[5]. (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)[6]. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465).

Source by : www.jadipintar.com /2014/04
image by : caramasaipul.clik and bersamadakwah.net
edited by : WTRM F14
taqabbalallahu-minna-wa-m.jpeg
#ya allah mudahkan lah kami dalam menjalankannya. Aamiin :):):)
#ya allah semoga bermanfaat
#hanya kepadamu kami mohon ampun atas segalah salah dan dosa ya allah
#ayo puasa syawwal 6 hari :):):)
#semangat :):):)
#fastabiqul khoirot :):):)
#berharap ada yang mau bantu share supaya lebih banyak orang yang tau atas keutamaannya

Jumat, 24 Juni 2016

tahukah anda dengan karbohidrat ??

Karbohidrat

karbohidrat.jpg
Senyawa yang terdapat dalam semua tumbuhan dan hewan dan sangat penting bagi kehidupan.
Tersusun atas unsur Carbon, Hidrogen, dan Oksigen.
Memiliki rumus CnH2nOn
Merupakan polihidroksilaldehid, polihidroksiketon, atau zat yang memberikan senyawa seperti itu jika dihidrolisis.

penggolongan
Penggolongan berdasarkan strukturnya: monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida
Istilah sakarida berasal dari kata Latin
...........................


untuk file lengkapnya silahkan download file karbohidrat-1.pdf

sumber : kimia bahan makanan tahun 2016 jurusan analisis kimia
gambar : labbiomol.blogspot.com

yuk disimak Nasehat-nya Rasulullah SAW

muhammad-saw.jpeg

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washshalatu wassalmu’ala ashrafil ambya’i walmursalin, wa ‘ala alihi washahbihi aj’ma’in. Ama ba’du.

Bapak dan ibu, saudara/i jama’ah yang dimuliakan Allah, marilah kita panjatkan puji syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita, utamanya adalah nikmat Islam, kesehatan, kekuatan dan kesempatan.

Tak lupa salam dan shalawat semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam, keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah melaksanakan ajarannya. Aamin yaa robbal ‘alamiin.

Jama’ah yang dirahmati Allah, tema kultum pada kesempatan kali ini ialah, “3 Pesan (Nasihat) Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam.”

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam pernah memberikan tiga buah nasihat kepada kedua sehabatnya, Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman bin Jabal, “Bertakwalah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, dan ikutilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji,” (HR. Tirmidzi).

Tiga pesan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam tersebut layak untuk kita perhatikan, karena sangat berkaitan erat dengan kehidupan kita sehari-hari.

1. Bertakwa di mana saja

Definisi dari kata takwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Umar dan Ubay bin Ka’ab RA. Suatu ketika Umar bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, apakah takwa itu? Dia menjawab, “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab, “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab, “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata, “Maka demikian pulalah takwa!”

Sementara itu, menurut Sayyid Qutub, takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.

Nasihat Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam ini menunjukkan bahwa kita harus bertakwa di mana pun berada. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 102, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan Islam.”

2. Kebaikan yang menghapuskan dosa (kesalahan)

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Bahkan, hari ini mungkin kita sudah melakukan kesalahan, baik kita sadari atau pun tidak. Oleh sebab itu, perbanyaklah amal ibadah dan kebaikan. Karena beberapa kesalahan dapat dihapuskan dengan kebaikan.

Dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”

Sedang dosa yang dilakukan terhadap orang lain, maka yang perlu dilakukan adalah meminta maaf kepada orang yang kita sakiti.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam selalu minta maaf ketika bersalah, bahkan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau memeluknya dengan hangat seraya berkata “Inilah orangnya, yang membuat aku ditegur oleh Allah.”

Yang dimaksud Rasulullah ditegur oleh Allah terkait Ibnu Ummi Maktum adalah diturunkannya QS. Abasa.

3. Akhlak yang terpuji

Akhlak terpuji harus dimiliki oleh seorang muslim. Salah satunya adalah akhlak terhadap orang lain, misalnya akhlak terhadap tetangga.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya,” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).

Dari Abu Syuraih RA, bahwa Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Demi Allah seseorang tidak beriman. Demi Allah seseorang tidak beriman. Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa itu ya Rasulullah?” Jawab nabi, “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya,” (HR. Bukhari).

Peringatan tersebut sangat keras bahkan sampai diulangi tiga kali, yaitu tidak termasuk golongan orang beriman jika ada tetangganya yang tidak aman dari gangguannya.

Maka dari itu kita perlu instrospeksi, apakah tetangga kita selama ini merasa terganggu atau tersakiti karena ulah tangan atau pun lidah kita. Karena percuma kita shalat lima waktu, rajin shalat malam, sedekah bahkan puasa sunah, jika ternyata kita masih suka mengganggu atau menyakiti tetangga kita.

Demikianlah sedikit yang dapat disampaikan. Kurang lebihnya mohon maaf. Billahitaufik walhidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuuh.


Sumber : ZonaKeren.com
source by : islampos.com
edited by : W T R M F14
image by : ilmu-surga.blogspot.com

#:):):)

Malaikat Pun Bingung ketika Hendak Mencatat Pahala Zikir ini (kira2 zikir seperti apa yaa?)

Assalammu'alaikum
bismillah

embun-1.jpg

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah diceritakan bahwa seseorang membaca kalimat: Ya Rabbi lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthaanik '
“Ya Rabbi, bagiMu segala puji sebagaimana seyogyanya; bagi kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu”

Dua malaikat yang hendak mencatat ganjarannya “kebingungan” tidak tahu bagaimana mencatat ganjaran ucapan tersebut. Maka mereka pun naik ke langit melaporkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hambaMu telah berdzikir dengan kalimat yang kami tidak mengetahui bagaimana harus menulisnya” kata dua malaikat tersebut.

Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka, padahal Dia telah mengetahui apa yang terjadi. “Wahai malaikat, apa yang diucapkan hambaku itu?”

“Wahai Tuhanku, ia mengucapkan ‘Ya Rabbi lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthaanik’”

Lantas Allah Azza wa Jalla pun memberikan keputusan-Nya: “Tulislah sebagaimana yang diucapkan oleh hambaKu itu hingga kelak ia berjumpa denganKu dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran kepadanya.”

Masya Allah… kalimatnya pendek, mudah dihafal namun luar biasa pahalanya hingga malaikat pun tak sanggu mencatatnya. Maukah Anda mengamalkannya? Dalam Al Ma’tsurat dzikir pagi dan petang, kalimat tersebut masuk sebagai salah satu dzikir yang diucapkan.

Bagi Anda yang perlu mengetahui hadits lengkap mengenai kisah pahala kalimat tersebut, ini dia matannya:


Bahwasanya seorang hamba dari hamba-hamba Allah mengucapkan ‘Ya Rabbi lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthaanik’. Maka dua malaikat pun kesulitan dan tidak mengetahui bagaimana mencatat (ganjaran kalimat) itu. Maka mereka pun naik ke langit dan berkata (melapor kepada Allah): “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hambaMu telah mengucapkan kalimat yang kami tidak mengetahui bagaimana mencatat (ganjarannya). Allah Azza wa Jalla bertanya padahal Dia telah mengetahui apa yang diucapkan hambaNya itu, “Apa yang diucapkan hambaKu?” Kedua malaikat itu menjawab, “Wahai Tuhan, sesungguhnya ia mengucapkan ‘Ya Rabbi lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthaanik.’ Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman kepada kedua malaikat tersebut, “Tulislah baginya sebagaimana kalimat hambaKu itu hingga ia berjumpa denganKu dan Aku yang akan memberikan ganjaran kepadanya.” (HR. Ibnu Majah).

Sumber : Muchlisin BK- Jun 22, 2016 62940
source by : bersamadakwah.net
image by : fbmlia.yu.tl upload
edited by : W T R M F14

#ayo share dan like postingan ini :):):)
#allahuakbar :) semoga bermanfaat