Cari Blog Ini fbfoksia.blogspot.com

Rabu, 01 Juni 2016

Wafatnya Manusia Termulia, dan Azannya Bilal

embun-1.jpg


bismillaahirrahmanirrahiim...assalammu'alaikum wr.wb
wahai saudara/i ku sekalian, mari kita luangkan waktu untuk membaca sedikit dari siroh nabawiyah, agar kita dapat mengambil pelajaran, bagaimana CINTA dan RINDU-nya para sahabat dan kaum muslimin ketika Rasulullah SAW wafat, allahumma sholi 'ala muhammad wa 'ala 'ali muhammad

PADA waktu dhuha di hari Senin 12 Rabi’ul Awal 11 H (hari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) masuklah putri beliau Fathimah radhiyallahu anha ke dalam kamar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, lalu dia menangis saat masuk kamar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berdiri dan menciumnya di antara kedua matanya, akan tetapi sekarang beliau tidak mampu berdiri untuknya.

Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda kepadanya: “Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun menangis. Kemudian beliau bersabda lagi untuk kedua kalinya: “Mendekatlah kemari wahai Fathimah.” Beliaupun membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa.

Maka setelah kematian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mereka bertanya kepada Fathimah : “Apa yang telah dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kepadamu sehingga engkau menangis, dan apa pula yang beliau bisikkan hingga engkau tertawa?”

Fathimah berkata: “Pertama kalinya beliau berkata kepadaku: ‘Wahai Fathimah, aku akan meninggal malam ini.’ Maka akupun menangis. Maka saat beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata kepadaku: ‘Engkau wahai Fathimah, adalah keluargaku yang pertama kali akan bertemu denganku.’ Maka akupun tertawa.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil Hasan dan Husain, beliau mencium keduanya dan berwasiat kebaikan kepada keduanya. Lalu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasihati dan mengingatkan mereka. Beliau berwasiat kepada seluruh manusia yang hadir agar menjaga shalat. Beliau mengulang-ulang wasiat itu.

Lalu rasa sakitpun terasa semakin berat, maka beliau bersabda: “Keluarkanlah siapa saja dari rumahku.” Beliau bersabda: “Mendekatlah kepadaku, wahai ‘Aisyah!‘Aisyah berkata: “Beliau mengangkat tangan beliau seraya bersabda: ‘Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan Ar-Rafiqul A’la’.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela ucapan beliau, beliau disuruh memilih di antara kehidupan dunia atau Ar-Rafiqul A’la.

Masuklah Malaikat Jibril alaihis salam menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya berkata: “Malaikat maut ada di pintu, meminta izin untuk menemuimu, dan dia tidak pernah meminta izin kepada seorangpun sebelummu.”

Maka beliau berkata kepadanya: “Izinkan untuknya, wahai Jibril.”

Masuklah malaikat Maut seraya berkata: “Assalamu’alaika wahai Rasulullah. Allah telah mengutusku untuk memberikan pilihan kepadamu antara tetap tinggal di dunia atau bertemu dengan Allah di akhirat.”

Maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la (Teman yang tertinggi), bahkan aku memilih Ar-Rafiqul A’la, bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu :para nabi, para shiddiqiin, orang-orang yg mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah rafiq (teman) yang sebaik-baiknya.”

‘Aisyah menuturkan bahwa sebelum Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, 'aisyah mendengarkan beliau secara seksama, beliau berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku dan susulkan aku pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya Allah (aku minta) ar-rafiq al-a’la.”

Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam- sebagaimana dia berdiri di sisi kepala salah seorang diantara kita- dan berkata: “Wahai roh yang bagus, roh Muhammad ibn Abdillah, keluarlah menuju keridhaan Allah, dan menuju Rabb yang ridha dan tidak murka.”

Sayyidah ‘Aisyah berkata: “Maka jatuhlah tangan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”

Dia berkata: “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tidak ada yang kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yang di sana ada para sahabat, dan kukatakan, ‘Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.’ Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Ustman bin Affan radhiyallahu anhu seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan dan kekiri. Adapun Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata: ‘Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa alaihis salam pergi untuk menemui Rabb-Nya.’

“Adapun orang yang paling tegar adalah Abu Bakar radhiyallahu anhu, dia masuk kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata: ‘Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.’ Kemudian dia mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ‘Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati’.”

“Keluarlah Abu Bakar menemui manusia dan berkata: ‘Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.’ Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah orang yang paling mulia, orang yang paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi kiat tercinta Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.

Waktu shalat telah tiba.

Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

“Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah….”

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

“Asy…hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad…”

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Baca Juga :

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

“Asy…ha..du. .annna…”

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh.

Tubuhnya mulai limbung.

Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.

Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal.

Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu tahu.

Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan. Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, “Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya”.

Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, “Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung.

Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat. Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, “Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.”

Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat. Bilal teringat, saat shalat ‘Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan. Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab, satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih. Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.

Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan adzan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad shalallahu alaihi wasallam, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya. Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya.

Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk.

“Hanya sekali”, bujuk Umar. “Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?” Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba.

Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

“Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah…”

“Asyhadu anna Muhammadarrasulullah…”



Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

“Asyhadu anna Muhammadarrasulullah…”

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

“Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alash-shalah…”

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

“Hayya `alal-falah, hayya `alal-falah…”

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

“La ilaha illallah…”

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.

[gizanherbal]
source by : islampos.com
image by :
edited by : WTRM

Selasa, 31 Mei 2016

Agar Tidak Merugi di Bulan Ramadhan

Sobat Ayo Hindari Hal-Hal Ini Agar Tidak Merugi di Bulan Suci Ramadhan

BAGI umat Islam datangnya bulan Ramadhan merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan. Karena dari 12 bulan yang ada, hanya di bulan Ramadhan ini umat Islam bisa mendapatkan pahal yang berlipat. Namun sangat disayangkan jika kita tak mampu meraup keuntungan di bulan suci ini.

Ramadhan bisa disebut sebagai bulan hadiah. Dimana banyak sekali hadiah yang Allah bagi di bulan ini. Tentu mereka yang tak mendapatkan hadiah itu adalah orang yang paling rugi, karena belum tentu Ramadhan berikutnya mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan di bulan suci ini. Jika Anda tak ingin rugi di bulan penuh berkah ini, hindarilah 6 hal berikut.

1. Tidak berpuasa dan tidak beribadah dengan maksimal

Perintah puasa di bulan Ramadhan bagi setiap orang yang mengaku beriman sudah sangat jelas tertuang di surat Al Baqarah ayat 183. Namun kenyataannya, banyak diantara kita yang mengaku beriman, sehat dan tidak sedang berhalangan, namun tidak menjalankan ibadah puasa.

Padahal jika kita menilik pada rukun Islam, maka seseorang belum bisa dikatakan beragama Islam jika belum bersyahadat, menegakkan sholat dan mengerjakan puasa. Sementara zakat dan ibadah haji hanya diwajibkan kepada yang mampu saja.

Selain itu, ada juga diantara kita dan mungkin termasuk yang berpuasa, namun tidak melakukan amal ibadah lainnya dengan maksimal. Puasa hanya sekadar puasa saja. Padahal bulan Ramadhan itu menyimpan potensi pahala yang tidak terbatas. Ibadah sunah pahalanya dihitung seperti ibadah wajib, dan ibadah wajib pahalanya dilipatgandakan sampai tak terhingga.

“…Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan Ramadhan pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya… (HR. Ibnu Huzaimah).

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim).

2. Tidak menjaga shalat

Shalat adalah ibadah terpenting bagi seorang muslim karena shalat adalah tiang agama. Selain itu, shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab oleh Allah di hari kiamat kelak.

“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” (HR Tirmidzi).

Baca Juga :

Selain itu, kepada para laki-laki hendaknya senantiasa mengerjakan sholat 5 waktu di masjid. Karena bagi orang yang malas sholat di masjid, oleh Nabi dikategorikan kepada golongan orang munafik.

“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh di masjid…” (HR Bukhari Muslim).

Meskipun hanya disebutkan sholat Isya dan Subuh, namun kita tidak boleh meremehkan sholat lainnya. Sebab, jika kita amati saat ini, justru shalat Ashar lah yang sering kali sedikit jamaahnya.

Kemudian, orang munafik oleh Allah diancam dengan Neraka Jahanam. “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam” (QS An Nisa:140).

3. Puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga

Disatu sisi bulan Ramadhan menawarkan pahala yang tak terhingga, disisi lain, banyak diantara kita yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga,” (HR. Ath Thobrani).

Beberapa perkara yang menyebabkan hilangnya pahala puasa, antara lain: berdusta atau bohong, ghibah dan fitnah, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat aurat lawan jenis dengan syahwat.

Orang-orang tersebut puasanya tetap sah, namun tidak mendapatkan pahala atas puasanya.

4. Tidak mengikuti tarawih hingga selesai

Kadang-kadang kita melihat ada orang yang meninggalkan shalat tarawih sebelum shalat witir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan satu keutamaan bagi orang yang megikuti tarawih sampai selesai. Nabi bersabda:

“Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Untuk itu marilah kita usahakan senantiasa mengikuti sholat tarawih berjamaah hingga selesai sholat witir.

5. Tidak membiasakan membaca Al Qur’an

Membaca Al Qur’an adalah amalan yang sangat dianjurkan baik di bulan Ramadhan maupun bulan lainnya.

Didalam HR. Tirmidzi, Nabi bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan Alif Laam Mim adalah satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf”.

Begitu besar pahala membaca Al Qur’an, belum lagi jika dikerjakan di bulan Ramadhan, dimana setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan sampai tak terhingga.

Untuk itu marilah kita membiasakan diri untuk membaca Al Qur’an, paling tidak di bulan Ramadhan ini bisa khatam satu kali.

6. Lebih buruk dari tahun lalu

Jika puasa Ramadhan tahun ini lebih buruk dari tahun lalu, maka sesungguhnya kita adalah orang yang mengalami kerugian. Karena orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Untuk itu marilah kita nilai diri kita masing-masing, apakah kualitas ibadah kita tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, atau justru malah menurun atau semakin buruk.

#ayoo semarakkan bulan ramadhan
#allahhuakbar

Sumber : ZonaKeren.com
source by : islampos.com
image by : ppgsm3tcivicedu.blogspot.com and www.cantiksihatsemulajadi.com

Sabtu, 28 Mei 2016

Contoh Judul KTA TEKNIK INDUSTRI

52 contoh Judul Karya Tulis Akhir

 kta.jpg

1. PENGEMBANGAN ALAT PEMOTONG TAHU YANG ERGONOMIS DENGAN MENGGUNAKAN METODE RULA

2. PERANCANGAN ULANG ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PROSES PENGELASAN DENGAN PENDEKATAN K3 DAN ERGONOMI DI PT. XXX

3. USULAN PERANCANGAN TEMPAT DUDUK ERGONOMIS UNTUK OPERATOR DI LINE PACKING PADA PT. XXX

4.    ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI LABORATORIUM PERANCANGAN SISTEM KERJA DAN ERGONOMI DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MODUL ANTROPOMETRI DI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS XXX 

5. EVALUASI ERGONOMI DESAIN JOK MOBIL MINIBUS DENGAN SOFTWARE CATIA BERDASARKAN ANALISIS METODE RULA 

6.  USULAN PERBAIKAN CARA KERJA PADA STASIUN KERJA MESIN HOPPER DI PT. XXX DENGAN PENDEKATAN ILMU ERGONOMI 

7. EVALUATION AND DESIGN OF A HOSPITAL BED TO BE MANUFACTURED AND USED IN XXX 

8. PENERAPAN ENGINEERING CONTROL DAN ADMINISTRATIVE CONTROL SEBAGAI BENTUK INTERVENSI ERGONOMI DI PT XXX 

9. PENAKSIRAN RESIKO ERGONOMI DENGAN PENDEKATAN FUZZY LOGIC PADA INDUSTRI KAPAL (STUDI KASUS DI PT XXX) 

10.  PERBAIKAN SISTEM KERJA YANG ERGONOMIS PADA PABRIK KECAP MURNI DI PT XXX

11. ANALISIS POSTUR KERJA DENGAN TINJAUAN ERGONOMI DI INDUSTRI BATIK (STUDI KASUS DI PT XXX)

12.  PERANCANGAN AREA MENGAJAR PADA RUANGAN KELAS KAMPUS XXX DENGAN PENDEKATAN ANALISIS ASPEK ERGONOMI 


klik LINK judul kta-1 berwarna dan bergaris bawah untuk Download filenya yang lengkap!!!

klik after here judul-kta-1.rar goodjobs

Jumat, 27 Mei 2016

Yakin Masih Jarang untuk Bersholawat, ini nih Keutamaannya

Assalammu'alaikum wr.wb
mulai sekarang perbanyak sholawat yuk teman-teman, supaya allah dan rasulnya mencintai kita, aamiin

mari-sholawatan-blog-al-h.jpeg

sholawat-rukun-islam-com.gif
SAUDARAKU…

Shalawat merupakan ibadah yang begitu ringan bagi kita. Keringanan melakukannya, tidaklah sama ringan dengan pahala yang akan kita peroleh. Insya Allah dengan melakukan hal ringan itu pahala yang kita peroleh besar.

Saudaraku…

Tak sedikit di antara kita yang memang menganggap sulit hal yang ringan ini. Malas, adalah godaan terbesar kita. Maka, marilah kita bersama-sama menghilangkan rasa itu, agar kita senantiasa memuji Nabi kita, sang penuntun arah kebenaran, Rasulullah SAW.

Saudaraku...

Apa yang kita lakukan itu tidak akan ada yang sia-sia, selagi apa yang kita lakukan bermanfaat. Salah satunya bershalawat kepada Rasulullah SAW. Jangan dikira aktivitas ini adalah perbuatan yang tidak mengandung arti, melainkan kita akan memperoleh suatu keutamaan yang besar di dalamnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali, menghapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan,” (Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykaah no. 902).

Nabi SAW bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, karena Allah Ta’ala menugaskan seorang Malaikat dikuburku. Jika salah seorang dari umatku bershalawat kepadaku, maka Malaikat tersebut berkata, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya fulan bin fulan bershalawat kepadamu saat ini’,” (Silsilah ash-Shahihihah no. 1530).


Sumber : Amalan Harian Seorang Muslim/Karya: Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah/Penerbit: Pustaka Ibnu ‘Umar

source by : islampos.com
image by : blog.al-habib.info and rukunislam.com

Ini Nih Tanda-Tanda Kalau Sobat Cinta Rasul

cinta-rasul-mikrajnews-co.jpeg


6 Tanda Kalau kita Cinta Rasulullah SAW
SEBAGAI seorang muslim, kita diperintahkan untuk mencinta rasulullah SAW. Ketika kita berbicara cinta, tentu bukan hanya sekadar mengucapkan kata cinta dari bibir saja. Namun, kita harus mengaplikasikan rasa cinta tersebut dengan menjalankan segala hal yang diperintahkan oleh Rasul, serta menjauhi segala larangan lewat sabdanya.

DilansirIlmfeed, berikut ini ada enam tanda-tanda jika kamu mencintai Nabi Muhammad SAW :

1. Mengikuti Syariat Allah yang ada di Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tapi juga harus dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang dirinya mengaku mencintai Nabi Muhammad, maka ia akan otomatis menerapkan segala peraturan sang pencipta yang diturunkan melalui Rasul-Nya.

2. Mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW

Jika kita mengaku mencintai Rasulullah, maka jalankanlah sunnah Nabi. Semakin kita mencintai Sunnah, semakin kita akan mencoba untuk menerapkannya dalam kehidupan. Jika ada sesuatu yang dicontohkan Nabi maka kerjakanlah, namun jika ada sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Nabi maka tinggalkanlah.

3. Mempelajari Sirah Nabawiyah dan Mendorong Oranglain untuk Melakukannya

Setiap Muslim harus mempelajari biografi Nabi SAW, sebab jika kita mempelajari sirah nabi maka kita akan mengetahui bagaimana kasih sayang, cinta, dedikasi, ketulusan, kecantikan, karakter mulia, perhatian terhadap umat, dan apapun yang Nabi SAW lakukan untuk menyampaikan islam ke seluruh dunia.

Bagaimana mungkin, jika kita mengaku mencintai Nabi Muhammad, namun kita tidak mengetahui biografi dan latar belakang hidupnya?

4. Sering Mendoakan Nabi SAW

Baca Juga :

Jika kita mengakau mencinta Nabi SAW, maka janganlah lupa mendoakan Nabi Muhammad kepada Allah SWT. Sebenarnya jika kita memamahi makna bacaan shalat, kita sering mendoakan Nabi SAW melalui bacaan “Allahumma Sholi ‘ala Muhammad” .

Semakin kita sering mengirimkan doa kepada Nabi SAW, maka kita akan semakin dekat kepada beliau kelak di hari kiamat dan Nabi SAW akan memberikan syafaat kepada umat yang mencintainya ketika kita di akhirat nanti.

5. Menyukai Hal-hal yang Nabi Muhammad Cintai dan Orang-orang yang Dicintainya

Jika kita mengaku mencintai Nabi SAW, maka kita harus menyukai hal-hal yang nabi Muhammad cintai, misalnya sering melakukan ibadah puasa sunnah senin dan kamis, menggunakan siwak dan sunah-sunah lainnya yang Rasulullah cintai.

Selain itu, kita juga harus mencintai orang-orang yang dicintai Nabi SAW, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan seluruh keluarga Nabi SAW serta para sahabat pada umumnya.

6. Sering Mengingat Nabi SAW dan Ingin Bertemu dengannya

Ketika kita mencintai seseorang, maka kita sering memikirkan seseorang yang dicintainya, hingga kita berharap bertemu dengan seseorang yang kita cintai tersebut. Oleh karena itu, semakin kita mencintai Rasulullah maka kita sering mengingatnya dengan membaca sirah nabawiyah, memperbanyak doa dan membaca shalawat untuk beliau, hingga kita berharap kepada Allah SWT agar dipertemukan dengan Nabi SAW di akhirat kelak.

Ya Allah, berikanlah kami cinta sejati kepada Nabi Muhammad SAW. Berikanlah kelapangan hati untuk menjalankan sunah-sunahnya. Petemukan kami dengan kekasihmu Rasulullah SAW kelak. Insha Allah

source by : islampos.com
image by : mirajnews.com